Pendahuluan
Dalam lanskap pendidikan tinggi Islam, skripsi bukan sekadar syarat kelulusan, melainkan cerminan dari kematangan intelektual mahasiswa dan relevansi kurikulum program studi terhadap dinamika zaman. Hingga Desember 2025, Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) IAI AL-AZIS telah berhasil menghimpun "harta karun" akademik berupa 461 judul skripsi yang dihasilkan oleh mahasiswa dari Angkatan 1 hingga Angkatan 9. Data masif ini, ketika dibedah menggunakan pendekatan data science sederhana, menyingkap peta intelektual yang unik dan pola pikir mahasiswa yang terus berevolusi. Analisis ini menjadi vital, tidak hanya sebagai dokumentasi internal, tetapi sebagai bukti otentik pemenuhan standar mutu dalam instrumen akreditasi BAN-PT, khususnya pada kriteria luaran dharma pendidikan dan relevansi kurikulum.
1. Dinamika Akad Fiqh: Dari Tekstual Menuju Kontekstual
Berdasarkan distribusi topik berdasarkan akad fiqh dominan, terlihat bahwa mahasiswa HES IAI AL-AZIS memiliki fondasi pemahaman Fiqh Muamalah yang kokoh sekaligus adaptif.
Akad Murabahah (Jual Beli) masih memegang porsi terbesar dengan angka 33,4% (154 judul). Dominasi ini wajar mengingat Murabahah adalah tulang punggung industri perbankan syariah nasional. Riset mahasiswa di sektor ini menunjukkan bahwa mereka memahami mekanisme dasar ekonomi syariah yang paling applicable. Namun, yang menarik untuk dicermati adalah pergeseran minat ke arah Akad Ijarah & Ju'alah (Sewa & Upah) yang mencapai 20,4% (94 judul). Kenaikan signifikan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa mulai peka terhadap pergeseran ekonomi global dari ekonomi berbasis produk (product-based) menuju ekonomi berbasis jasa (service-based).
Lebih jauh lagi, munculnya Akad Campuran/Multi-Akad (Hybrid Contracts) sebesar 13,2% (61 judul) menjadi indikator keberhasilan pembelajaran tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills). Mahasiswa tidak lagi hanya melihat satu akad secara parsial, melainkan mampu mengonstruksi solusi hukum atas transaksi modern yang kompleks—seperti penggabungan wakalah dengan murabahah—yang seringkali tidak dapat diselesaikan dengan akad tunggal. Sisa distribusi pada Mudharabah & Musyarakah (12,6%), Akad Lainnya seperti Salam/Istishna (10,6%), dan Rahn (9,8%) menunjukkan variasi riset yang sehat, memastikan tidak ada kekosongan kajian pada akad-akad tabarru’ maupun komersial lainnya.
2. Dialektika Isu: Harmoni Antara Tradisi dan Modernitas
Salah satu kekuatan narasi dari data 461 skripsi ini adalah keseimbangan komposisi isu yang diangkat. Mahasiswa HES IAI AL-AZIS tidak terjebak pada menara gading, namun menapak bumi sekaligus menatap langit teknologi.
![]() |
| Gambar 2. Dialektika Isu Riset. Data terbaru menunjukkan keseimbangan unik prodi HES IAI AL-AZIS. Riset tidak hanya terpusat pada lembaga formal (42,5%), tetapi memiliki porsi yang sangat kuat dalam melestarikan kearifan lokal (Living Law) sebesar 30,2%, sembari terus beradaptasi dengan isu digital (27,3%). |
Sebanyak 42,5% (196 judul) penelitian memang berfokus pada Isu Institusional (Lembaga Keuangan Formal). Ini membuktikan bahwa Link and Match antara kampus dan industri berjalan baik, di mana mahasiswa membedah praktik di BMT, Bank, dan Koperasi. Namun, distingsi yang luar biasa terlihat pada porsi Isu Praktik Tradisional & Kearifan Lokal yang mencapai 30,2% (139 judul).
Dalam perspektif akreditasi BAN-PT, tingginya riset berbasis kearifan lokal ini sangat strategis. Ini menunjukkan bahwa Prodi HES mampu merawat "Living Law" atau hukum yang hidup di masyarakat. Mahasiswa meneliti tradisi Gintingan, Talitihan, hingga sistem tebasan padi di desa-desa. Mereka hadir memberikan legitimasi syariah atau koreksi konstruktif atas praktik ekonomi warisan leluhur, sebuah bentuk nyata pengabdian masyarakat berbasis riset. Di sisi lain, 27,3% (126 judul) riset menyasar Isu Kontemporer & Digital, membuktikan bahwa mahasiswa juga responsif terhadap disrupsi teknologi seperti fintech, e-commerce, dan paylater.
3. Peta Sektor Ekonomi: Menguatkan Ekonomi Riil
Jika selama ini Hukum Ekonomi Syariah sering disalahpahami hanya sebatas "Hukum Perbankan Syariah", data ini membantah stigma tersebut. Analisis sektor ekonomi menunjukkan keberpihakan riset mahasiswa pada ekonomi kerakyatan.
Gabungan antara sektor Lembaga Keuangan Mikro & Koperasi (30,4% atau 140 judul) dengan sektor riil sangatlah dominan. Sektor Pertanian, Peternakan & Agraria menyumbang 22,1% (102 judul), disusul oleh Perdagangan Umum & Jasa Non-Keuangan sebesar 20,0% (92 judul). Artinya, hampir separuh riset mahasiswa IAI AL-AZIS bergulat langsung dengan masalah perut masyarakat: pangan, pertanian, dan usaha kecil.
Hanya 13,9% (64 judul) yang murni membahas Keuangan Formal (Bank & Asuransi), dan 13,6% (63 judul) pada Ekonomi Digital. Sebaran ini menegaskan profil lulusan yang inklusif; mereka siap menjadi bankir, tetapi juga siap menjadi pendamping hukum bagi petani, peternak, dan pelaku UMKM.
4. Relevansi dengan Standar Akreditasi BAN-PT
Analisis data di atas memiliki korelasi kuat dengan pemenuhan 9 Kriteria Akreditasi BAN-PT, khususnya pada aspek:
Kriteria 6 (Pendidikan - Kurikulum): Variasi judul skripsi membuktikan bahwa Kurikulum OBE (Outcome Based Education) Prodi HES telah berjalan efektif. Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) untuk menguasai hukum Islam klasik (turats) dan hukum positif kontemporer terinternalisasi dengan baik dalam karya ilmiah.
Kriteria 9 (Luaran Tridharma): Skripsi mahasiswa bukan sekadar tumpukan kertas, melainkan luaran penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat (User Needs). Tingginya riset di sektor pertanian dan kearifan lokal menjadi bukti impact sosial prodi terhadap lingkungan sekitarnya.
Visi Keilmuan Program Studi: Konsistensi riset pada isu hybrid contract dan ekonomi digital menunjukkan bahwa prodi memiliki peta jalan penelitian (research roadmap) yang futuristik dan terarah.
Kesimpulan: Distingsi Skripsi Prodi HES IAI AL-AZIS
Dari analisis mendalam terhadap 461 skripsi ini, dapat disimpulkan bahwa Distingsi (Keunikan/Pembeda) Skripsi Prodi HES IAI AL-AZIS dibandingkan dengan kampus lain terletak pada tiga pilar utama:
Integrasi Fiqh Muamalah dengan Kearifan Lokal (Local Wisdom): Tidak banyak prodi HES yang memiliki porsi riset budaya lokal hingga 30%. Skripsi di IAI AL-AZIS berhasil menjadikan tradisi desa sebagai objek kajian fiqh yang serius, menjadikan lulusannya peka terhadap sosiologi hukum.
Fokus pada Sektor Ekonomi Riil & Agraria: Berbeda dengan tren umum yang sangat "Bank-sentris", mahasiswa IAI AL-AZIS sangat kuat dalam riset ekonomi pertanian dan UMKM. Ini menjadikan profil lulusan lebih "membumi" dan solutif bagi masalah ekonomi akar rumput.
Responsivitas Digital yang Seimbang: Tanpa meninggalkan tradisi, prodi ini berhasil mendorong hampir 30% mahasiswanya untuk merespons tantangan ekonomi digital, menciptakan keseimbangan sempurna antara Turats (kitab kuning/tradisi) dan Hadatsah (kemajuan teknologi).
Dengan kekayaan data ini, Prodi HES IAI AL-AZIS optimis menatap masa depan akademik yang lebih gemilang, kredibel, dan terakreditasi unggul.(Tim Riset dan Data Prodi HES IAI Al-Aziz)




0 Komentar